barubelajarnulis.com

Desember 4, 2008

BAHASA INDONESIA, RENDAH ATAU RENDAH DIRI

Filed under: Bahasa — Tag:, — barubelajarnulis @ 7:59 am

 

 

Beberapa waktu lalu, pada pegelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2007 di Pekanbaru, film Kala, produksi MD Pictures, dinobatkan sebagai film berbahasa Indonesia terbaik. Penghargaan ini baru pertama kali diberikan dalam sejarah perhelatan akbar insan pefilman Indonesia tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki makna penting dalam penggarapan sebuah karya. Ada harapan, penghargaan tersebut akan membawa pengaruh positif bagi kelangsungan bahasa Indonesia di ruang publik mengingat film merupakan salah satu media hiburan yang banyak diminati. Secara tidak langsung, para produser film akan lebih memerhatikan kelayakan bahasa dalam karya-karya berikutnya. Sayangnya, belum semua pihak menyadari arti penting bahasa Indonesia. Jika para insan perfilman di negeri ini mulai ’tanggap’ pada keberadaan bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas bangsa yang patut dipertahankan, tidak demikian halnya dengan sebagian besar masyarakat yang lain.

Era digital yang menuntut penguasaan teknologi dan bahasa asing pada berbagai bidang kehidupan saat ini makin meminggirkan posisi bahasa Indonesia. Keadaan ini tidak berarti bahwa bahasa Indonesia tidak mampu bersaing dengan bahasa lain di dunia, tapi lebih pada sikap bangsa Indonesia sebagai pengguna bahasa Indonesia yang cenderung menunjukkan sikap negatif.

Sikap negatif tersebut bisa kita lihat dalam tiga hal. Pertama, maraknya penggunaan bahasa asing terutama bahasa Inggris di tempat umum untuk konsumsi publik. Di kota Palangkaraya misalnya, banyak kita jumpai papan nama, papan petunjuk, kain rentang, nama toko, pusat perbelanjaan, dan tempat umum yang menggunakan Bahasa Inggris. Sebut saja Beauty Treatment and Hairstylish, Kevina Resto and Cafe, President Taylor, Princess Cake and Decoration, Trubus Tart and Cake, Fathir Agency, dan masih banyak lagi. Bahkan ada sebuah undangan pernikahan yang berbahasa Inggris. Padahal, yang menikah adalah orang Palangkaraya dan yang diundang adalah keluarga, saudara, dan teman-teman warga kota ini. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah ”kita sedang berada di mana?”

Kedua, sikap tak acuh pengguna bahasa Indonesia. Sitor Situmorang mengatakan bahwa orang Indonesia ’malas’ untuk mencari padanan kata dan istilah asing, istilah yang ada diserap mentah-mentah. Orang Indonesia hanya pandai mengutak-atik kata dan istilah Inggris, tidak ada kemauan dan usaha untuk mencari padanan yang tepat, padahal kata dan istilah yang digunakan telah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Ketiga, ketidakmampuan media massa dalam menjalankan fungsi sebagai penjaga bahasa. Banyak media massa di negara kita masih ’keteteran’ dalam menyunting setiap berita dan artikel. Padahal media massa telah didaulat sebagai penjaga bahasa dan penggerak opini di masyarakat. Sangat disayangkan bila kemudian media massa menafikan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar demi mengikuti segmen pasar atau alur pembacanya. Hilangnya kolom pembinaan bahasa Indonesia di berbagai media juga semakin ’menenggelamkan’ posisi bahasa Indonesia.

Ada dua faktor penyebab munculnya sikap negatif tersebut, yakni kemalasan berpikir dan mitos tentang bahasa Indonesia. Kekacauan berbahasa sesungguhnya muncul dari kemalasan berpikir. Hal ini pernah ditegaskan oleh Franz Magnis Suseno S.J., menurutnya salah satu faktor yang menyebabkan rata-rata orang Indonesia buruk dalam berbahasa Indonesia adalah sifat malas berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat dan benar sesuai kaidah dalam bahasa Indonesia. Bahkan lebih banyak yang tidak mau tahu apakah bahasa yang dipakai itu sudah baik atau belum. Dia menambahkan bahwa orang Indonesia itu jarang memedulikan kaidah bahasa yang digunakan. Istilah keren-nya ”yang penting nyambung.” Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi dan informasi, melainkan alat berpikir.

Sikap negatif tersebut juga bermuara pada mitos tentang bahasa Indonesia selama ini, yakni (1) posisi faktual bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua (bukan bahasa ibu rata-rata orang Indonesia) yang dampaknya kita rasakan pada lemahnya frekuensi penggunaan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, (2) posisi historis bahasa Indonesia yang  bermula ’hanya’ dari bahasa Melayu, dan (3) bahwa bahasa Indonesia itu sulit dipahami karena banyaknya kosakata daerah dan asing yang diserap menjadi bahasa Indonesia. Ketiga hal tersebut tampaknya semakin menyudutkan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara.

Mengapa orang Indonesia tampak lebih bangga berbahasa asing daripada berbahasa Indonesia? Ismet Fanany, seorang pengajar Bahasa Indonesia di Universitas Deakin, Australia, mengatakan bahwa bahasa Indonesia masih dianggap rendah. Ini dibuktikan dengan keengganan masyarakat menggunakan bahasa Indonesia. Keengganan tersebut menunjukkan pandangan masyarakat Indonesia sendiri terhadap bahasanya. Bahasa Indonesia dianggap tidak cocok untuk mencerminkan persepsi yang lebih tinggi, lebih modern, lebih terdidik. Singkatnya, bahasa Indonesia dianggap tidak berdaya menghadapi kehidupan modern.

Mochtar Lubis, dalam bukunya ”Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungan Jawab,” mengatakan bahwa orang Indonesia memperlihatkan diri dapat berbahasa Inggris pada situasi yang tidak tepat adalah salah satu contoh sifat negatif manusia Indonesia terhadap bahasanya. Menurutnya orang Indonesia suka dengan lambang-lambang penanda diri. Bahasa Inggris misalnya, telah dijadikan sebagai penanda diri oleh mereka yang menganggap diri mereka modern, terdidik, merasa diri lebih tinggi. Dalam sebuah situs internet, (http:/warta.unair.com), seorang pengamat bahasa mengatakan bahwa orang Indonesia adalah sekumpulan manusia ’sok’ dan ’tukang tiru’ serta gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa. Orang Indonesia juga tidak segan meniru, melahap, bahkan menghamba pada hal-hal yang ’berbau’ luar negeri.

Asumsi tersebut dipertegas oleh kalangan intelektual, para eksekutif, tokoh masyarakat yang cerdik cendekia, dan para pejabat yang sering menggunakan bahasa asing terutama bahasa Inggris dengan porsi yang tidak seimbang dan terkesan ”asal-asalan.” Berbagai kalangan yang diharapkan mampu ”taat asas” terhadap bahasa Indonesia di negeri ini justru merupakan kalangan yang sering ”khilaf” dalam membahasakan pendapat, baik dalam bahasa tulis maupun lisan pada berbagai kesempatan formal.

Anggapan bahwa “mereka” yang bisa berbahasa Inggris itu lebih hebat, semakin menyebabkan keterasingan bahasa Indonesia di negeri ini. Gejala yang mengemuka kemudian adalah hadirnya sekolah internasional yang menawarkan dan “memaksa” menghadirkan suasana ”luar negeri” ke dunia pendidikan dengan menggunakan bahasa asing sebagai bahasa utama. Padahal, belum tentu pula lulusan sekolah tersebut diarahkan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Menguasai bahasa Inggris ataupun bahasa asing lainnya memang penting dan merupakan satu hal positif yang patut dibanggakan, tapi yang perlu kita cermati adalah penggunaannya. Jangan sampai kita menggunakan bahasa Inggris semata-mata untuk menonjolkan diri, memperlihatkan bahwa kita bisa berbahasa Inggris. Penggunaan bahasa asing itu sah-sah saja, bukan tidak boleh, tapi perlu disesuaikan dengan situasi dan tempat kita menggunakan bahasa asing tersebut.

Kita juga tidak bisa memaksakan bahasa Indonesia dipergunakan dalam percakapan sehari-sehari, karena masing-masing bahasa memiliki waktu dan tempat masing-masing. Bahasa Indonesia dalam hal ini sebagai medium bahasa komunikasi resmi sudah selayaknya diutamakan penggunaannya dalam berbagai kesempatan formal.

Pengaruh budaya asing dan globalisasi sebenarnya tidak akan terlalu memojokkan bahasa Indonesia jika kita memiliki filter yang kuat. Bahasa sebagai produk perkembangan budaya manusia juga seharusnya memiliki filter untuk menyaring pengaruh negatif yang datang dari luar. Filter itu dapat berupa komitmen yang kuat untuk mempertahankan dan menjaga kelangsungan bahasa Indonesia, serta adanya kepiawaian dalam pemakaian secara kontekstual. Bahkan, globalisasi dan tranformasi budaya dapat dijadikan sebagai ajang untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Yang tidak kalah penting dari hal itu adalah kesadaran masyarakat pada peran penting bahasa Indonesia sebagai lambang identitas dan jati diri bangsa. ”Kesadaran” yang bisa menyelamatkan bahasa Indonesia, bahasa nasional, dari keterpojokan di tengah pentas persaingan bahasa-bahasa di dunia.

 

* Penulis adalah salah satu staf Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah

 

 

About these ads

1 Komentar »

  1. siip..
    keep blogging mba’
    update terus blognya..
    salam

    Komentar oleh herikukuk — Maret 20, 2009 @ 2:20 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: